Senin, 24 Januari 2011

LAPORAN PENELITIAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN MAKANAN “Uji Formalin dan Penentuan Kadar Protein Bahan” Oleh : Yoza Fitriadi A1F007010

LAPORAN PENELITIAN
PRAKTIKUM KIMIA BAHAN MAKANAN

“Uji Formalin dan Penentuan Kadar Protein Bahan”









Oleh :

Yoza Fitriadi
A1F007010




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2009


PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Produk pangan dewasa ini semakin baragam bentuknya, baik itu dari segi jenisnya maupun dari segi rasa dan cara pengolahannya. Namun seiring dengan semakin pesatnya teknik pengolahan pangan, penambahan bahan-bahan aditif pada produk pangan sulit untuk dihindari. akibatnya keamanan pangan telah menjadi dasar pemilihan suatu produk pangan yang akan dikonsumsi.
Keamanan pangan merupakan hal yang sedang banyak dipelajari, karena manusia semakin sadar akan pentingnya sumber makanan dan kandungan yang ada di dalam makanannya. Hal ini terjadi karena danya kemajuan ilmu pengetahuan serta kemajuan teknologi, sehingga diperlukan suatu cara untuk mengawasi keamanan pangan.
Dalam proses keamanan pangan, dikenal pula usaha untuk menjaga daya tahan suatu bahan sehingga banyaklah muncul bahan-bahan pengawet yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan suatu bahan pangan. Namun dalam praktiknya di masyarakat, masih banyak yang belum memahami perbedaan penggunaan bahan pengawet untuk bahan-bahan pangan dan yang non pangan. Formalin merupakan salah satu pengawet non pangan yang sekarang banyak digunakan untuk mengawetkan makanan.
Formalin adalah nama dagang dari campuran formaldehid, metanol dan air. Formalin yang beredar di pasaran mempunyai kadar formaldehid yang bervariasi, antara 20% - 40%. Formalin memiliki kemampuan yang sangat baik ketika mengawetkan makanan, namun walau daya awetnya sangat luar biasa, formalin dilarang digunakan pada makanan. Di Indonesia, beberapa undang-undang yang melarang penggunaan formalin sebagai pengawet makanan adalah Peraturan Menteri Kesehatan No 722/1988, Peraturan Menteri Kesehatan No. 1168/Menkes/PER/X/1999, UU No 7/1996 tentang Pangan dan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen. Hal ini disebabkan oleh bahaya residu yang ditinggalkannya bersifat karsinogenik bagi tubuh manusia
1.2 Tujuan
1. Dapat menyebutkan alat-alat yang digunakan untuk mengidentifikasi formalin
2. Dapat menyebutkan reagen-reagen yang digunakan untuk mengidentifikasi formalin
3. Dapat menerangkan langkah-langkah kerja dalam menganalisa kadar protein suatu bahan
















TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Pengertian formalin
Formalin adalah berupa cairan dalam suhu ruangan, tidak berwarna, bau sangat menyengat, mudah larut dalam air dan alkohol. Formalin adalah nama dagang formaldehida yang dilarutkan dalam air dengan kadar 36 – 40 %.
Formalin biasa juga mengandung alkohol 10 – 15 % yang berfungsi sebagai stabilator supaya formaldehidnya tidak mengalami polimerisasi (http://oliveoile.wordpress.com/2008/01/07/formalin-boraks/)
Formalin atau Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal), merupakan aldehida berbentuknya gas dengan rumus kimia H2CO. Formaldehida awalnya disintesis oleh kimiawan Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867. Formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon. Dalam atmosfer bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan hidrokarbon lain yang ada di atmosfer.
Meskipun dalam udara bebas formaldehida berada dalam wujud gas, tetapi bisa larut dalam air (biasanya dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan merk dagang 'formalin' atau 'formol' ). Dalam air, formaldehida mengalami polimerisasi dan sedikit sekali yang ada dalam bentuk monomer H2CO.
Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar antara 10%-40%. Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti pada umumnya aldehida, senyawa ini lebih reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehida bisa membentuk trimer siklik, 1,3,5-trioksana atau polimer linier polioksimetilena. Formasi zat ini menjadikan sifat-sifat gas formaldehida berbeda dari sifat gas ideal, terutama pada tekanan tinggi atau udara dingin. Formaldehida bisa dioksidasi oleh oksigen atmosfer menjadi asam format, karena itu larutan formaldehida harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan udara.
(http://wahyu-ramadhan.blogspot.com/2008/11/identifikasi-formalin-pada-produk_04.html).
1.2 Kegunaan formalin
Penggunaan formalin sebagai desinfektan, cairan pembalsem, pengawet jaringan, untuk pembunuh hama, pengawet mayat, bahan disinfektan dalam industri plastik, busa, dan resin untuk kertas, digunakan di indutri tekstil dan kayu lapis. Formalin tidak boleh digunakan sebagai bahan pengawet untuk makanan. (http://pipit.wordpress.com/2005/12/30/ciri-ciri-makanan-yang-mengandung-formalin).
1.3 Bahaya formalin
Formaldehida pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, dengan gejala : sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, depresi susunan syaraf dan gangguan peredaran darah. Injeksi formalin (suntikan) dengan dosis 100 gram dapat menyebabkan kematian dalam waktu 3 jam.
Akibat masuknya formalin pada tubuh bisa akut maupun kronis. Kondisi akut tampak dengan gejala alergi, mata berair, mual, muntah, seperti iritasi, kemerahan, rasa terbakar, sakit perut, dan pusing. Kondisi kronis tampak setelah dalam jangka lama dan berulang bahan ini masuk ke dalam tubuh. Gejalanya iritasi parah, mata berair, juga gangguan pencernaan, hati, ginjal, pankreas, sistem saraf pusat, menstruasi, dan memicu kanker
(http://oliveoile.wordpress.com/2008/01/07/formalin-boraks/).
Pengaruh Formalin Terhadap Kesehatan
a. Jika terhirup
Rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan , sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, kanker paru-paru.
b. Jika terkena kulit
Kemerahan, gatal, kulit terbakar
c. Jika terkena mata
Kemerahan, gatal, mata berair, kerusakan mata, pandangan kabur, kebutaan


d. Jika tertelan
Mual, muntah, perut perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit membiru, hilangnya pandangan, kejang, koma dan kematian.
(http://pipit.wordpress.com/2005/12/30/ciri-ciri-makanan-yang-mengandung-formalin).
2.3 Mendeteksi Formalin secara fisik
Berikut ini terdapat beberapa ciri penggunaan formalin, walaupun tidak terlampau khas untuk mengenali pangan berformalin, namun dapat membantu membedakannya dari pangan tanpa formalin.
a. Ciri-ciri mi basah yang mengandung formalin:
1. Tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius).
2. Bau agak menyengat, bau formalin.
3. Tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal
b. Ciri-ciri tahu yang mengandung formalin:
1. Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius)
2. Tahu terlampau keras, namun tidak padat
3. Bau agak mengengat, bau formalin (dengan kandungan formalin 0.5-1ppm)
c. Ciri-ciri baso yang mengandung formalin:
1. Tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius)
2. Teksturnya sangat kenyal
d. Ciri-ciri ikan segar yang mengandung formalin:
1. Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius)
2. Warna insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih
3. Bau menyengat, bau formalin

e. Ciri-ciri ikan asin yang mengandung formalin:
1. Tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius)
2. Bersih cerah
3. Tidak berbau khas ikan asin
f. Ayam potong:
1. Berwarna putih bersih.
2. Tidak mudah busuk atau awet dalam beberapa hari.
(http://pipit.wordpress.com/2005/12/30/ciri-ciri-makanan-yang-mengandung-formalin).
2.4 Pertolongan Pertama pada Keracunan formalin
a. Sebelum ke rumah sakit: Gunakan arang aktif (norit). Jangan memberi rangsang agar muntah karena menimbulkan risiko trauma korosif pada saluran coma atas.
b. Di rumah sakit: Dilakukan bilas lambung (gastric lavage), pemberian arang aktif (meski pemberian ini akan mengganggu penglihatan bila dilakukan teropong usus untuk mendiagnosis trauma esofagus dan saluran cerna)
c. Hemodialisis (cuci darah) untuk mengeliminasi habis formalin dari tubuh. Tindakan ini dilakukan bila terjadi keadaan asidosis metabolik (keracunan berat yang mengganggu metabolisme) .
(http://www.o-fish.com/HamaPenyakit/formalin.php)
2.5 Penentuan protein dengan Metoda Semi-Mikrokjeldahl
Prinsipnya adalah penentuan jumlah Nitrogen (N) yang dikandung oleh suatu bahan dengan cara mendegradasi protein bahan organik dengan menggunakan asam sulfat pekat untuk menghasilkan nitrogen sebagai amonia, kemudian menghitung jumlah nitrogen yang terlepas sebagai amonia lalu mengkonversikan ke dalam kadar protein dengan mengalikannya dengan konstanta tertentu. Disebut sebagai metode mikro (Mikrokjeldahl) karena ukuran sampel kecil, yaitu kurang dari 300 mg. Jika sampel yang digunakan lebih dari 300 mg disebut metode makro. Metode mikro digunakan pada bahan yang diduga hanya mengandung sedikit N. Analisa protein dengan metode Mikrokjeldahl pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu proses destruksi, proses destilasi, dan tahap titrasi.
1) Proses destruksi
Pada tahap ini, sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat sehingga terjadi penguraian sampel menjadi unsur-unsurnya yaitu unsur-unsur C, H, O, N, S, dan P. Unsur N dalam protein ini dipakai untuk menentukan kandungan protein dalam suatu bahan.
2) Proses destilasi
Prinsip destilasi adalah memisahkan cairan atau larutan berdasarkan perbedaan titik didih. Pada tahap destilasi, ammonium sulfat dipecah menjadi ammonia (NH3).
3)Tahap titrasi
Titrasi merupakan tahap akhir dari seluruh metode Kjeldahl pada penentuan kadar protein dalam bahan pangan yang dianalisis. Dengan melakukan titrasi, dapat diketahui banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia. Melalui titrasi ini, dapat diketahui kandungan N dalam bentuk NH4 sehingga kandungan N dalam protein pada sampel dapat diketahui:
Kadar nitrogen (% N) dapat ditentukan dengan rumus :
% N = (ts – tb) x N HCl x 14,008 x 100 %
mg sampel

dengan ts : volume titrasi sampel
tb : volume titrasi blanko
% protein (wb) = % N x fk
dengan fk : faktor konversi / perkalian = 6,25 (Sudarmadji dkk,1996: 204-209).



METODE

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum identifikasi formalin ini dilaksanakan pada hari kamis dan jumat pukul 14.00-17.00 wib, di laboratorium Basic Science Universitas Bengkulu.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat

• Statif dan klem
• Labu Erlenmeyer
• Labu destilasi
• Kaki tiga dan kasa
• Kondensor
• Selang
• Lampu spiritus
• Neraca analitik
• Tabung reaksi
• Rak tabung reaksi
• Penjepit Tabung reaksi
• Pipet Tetes
• Pengaduk
• Labu kjeldahl
• Alat Destruksi
• Gelas ukur
• Penangas air
• Buret

3.2.2 Bahan

• Tempe
• Tahu Putih
• Ikan teri
• Ikan asin
• Mie
• Siomay
• Susu Indomilk
• NaOH + Na2S2O3
• Logam Zn
• Aquadest
• Serbuk Asam asetat
• H2SO4
• Fehling A+B
• Benedict
• Asam Borat
• Metil biru
• NaOH 0,1 N


3.3 Cara Kerja
• Reaksi Identifikasi Formalin
1. Dimasukkan larutan bahan ke dalam tabung reaksi ditambahkan 2 ml pereaksi fehling A+B. Diamati, apabila ada endapan merah muda menunjukkan adanya formalin
2. Dimasukkan larutan bahan ke dalam tabung reaksi ditambahkan 3 ml pereaksi benedict dipanaskan selama 2 menit. Diamati, apabila ada endapan merah muda atau kuning menunjukkan adanya formalin.
• Penentuan Kadar Protein Bahan
1. Dimasukkan 10 gr bahan ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 5 gr serbuk asam asetat. Lalu dimasukkan ke dalam labu kjeldahl, kemudian ditambahkan 20 ml H2SO4.
2. Didestruksi selama semalam untuk memecah protein.
3. Larutan hasil destruksi dimasukkan ke dalam labu destilasi, dinding labu kjeldahl dibilas dengan 140 ml aquadest dan ditambahkan 30 ml larutan NaOH-Na2S2O3 dan beberapa butiran zink. Kemudian didestilasi campuran tersebut.
4. Diambil 25 ml asam borat dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer, lalu ditambahkan 3 tetes indicator metil biru. Destilat yang keluar ditampung dalam larutan ini.
5. Larutan hasil destilasi dititrasi dengan NaOH 0,1 N.
6. Dihitung % protein dengan menghitung total N.







HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan
• Reaksi Identifikasi Formalin
1. Dengan Pereksi Fehling
Sampel + Fehling Hasil Pengamatan
Mie Biru muda/ tidak ada endapan merah muda
Siomay Biru kehijauan/ tidak ada endapan merah muda
Tempe Warna ungu /tidak ada endapan merah muda
Ikan asin 1 Biru muda/ tidak ada endapan merah muda
Tahu Tahu menjadi merah muda/larutannya biru tua
Ikan asin 2 Warna biru tua/ tidak ada endapan merah muda

2. Dengan Pereaksi Benedict
Sampel + benedict Hasil Pengamatan
Mie Agak kuning
Siomay Kuning kebiruan
Tempe Tetap biru
Ikan asin Biru tua
Tahu Biru
Ikan teri Bitu tua







• Penentuan kadar protein dengan cara semi mikro kjeldahl
No Cara kerja Pengamatan
1 Dimasukkan 10 ml larutan bahan (sample ikan teri) ke dalam labu takar 100 ml lalu diencerkan sampai tanda batas.
2 Lalu dimasukkan ke dalam labu kjeldhal 500 ml dan ditambahkan H2SO4. Lalu ditambahkan asam asetat sebanyak 5 gram sebagai katalisator
3 Lalu larutan dididihkan dalam alat destruksi selama 30 menit. Setelah itu didinginkan dan dicuci dengan 140 ml aquades. Lalu larutan dimasukkan ke dalam labu destilasi dengan air cuciannya. Lalu ditambahkan 30 ml larutan NaOH-Na2S2O3 kemudian ditambahkan beberapa butiran Zink. Lalu dilakukan destilasi dan destilatnya ditampung pada Erlenmeyer berisi 25 ml asam borat dan 2 tetes indicator metil biru.
4 Larutan dititrasi menggunakan 0,1 N NaOH NaOH terpakai = 3,3 ml
Warna larutan berubah dari biru muda kehijauan menjadi ungu.
5 % protein dihitung dengan menghitung nilai total N.


• Perhitungan Penentuan kadar protein dengan cara semi mikro kjeldahl:
Jumlah total N = ml NaOH x N NaOH x 14,008 x f mg/ml
ml larutan contoh
= 3,3 ml x 0,1 N x 14,008 x 10 mg/ml
10 ml
= 4,623

4.2 Pembahasan
Pada percobaan ini adalah untuk mengidentifikasi formalin dari suatu sample. Pada percobaan ini dilakukan 2 percobaan yaitu reaksi identifikasi formalin dan penentuan kadar protein dengan cara semi mikro kjeldhal. Pada reaksi identifikasi formalin ini menggunakan pereaksi fehling (A + B) dan benedict. Pada percobaan ini digunakan sampelnya yaitu mie, ikan asin 1, ikan asin 2, tahu, siomay dan tempe.
1. Reaksi Identifikasi Formalin
Pada percobaan pertama yaitu reaksi identifikasi formalin yang menggunakan reagen fehling A+B dan reagen benedict. Pada reaksi identifikasi formalin menggunakan fehling A+B ini menunjukkan uji positif jika terbentuk endapan merah muda. Dari percobaan diperoleh hasilnya yaitu mie berwarna tetap biru/tidak ada endapan merah muda; ikan asin 1 berwarna biru muda/ tidak ada endapan merah muda; tahu berubah warna menjadi merah muda; siomay berwarna biru kehijauan/ tidak ada endapan merah muda; tempe berwarna ungu/ tidak ada endapan merah muda dan ikan asin 2 terjadi warna biru tua/ tidak ada endapan merah muda.
Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa sample yang mengandung formalin adalah tahu dan yang tidak mengandung formalin adalah mie, ikan asin1, ikan asin 2, siomay dan tempe. Tetapi jika lebih teliti bahwa tahu berubah warna menjadi merah muda bukan terbentuk endapan merah muda dan jika dilihat dari ciri-ciri tahu yang digunakan tidak menunjukkan seperti ciri-ciri di bawah ini:


Ciri-ciri tahu yang mengandung formalin
1. tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar (250C) dan bertahan sampai 15 hari pada suhu lemari es (100C)
2. tahu terlampau keras namun tidak padat
3. bau agak menyengat
Kemungkinan warna merah muda yang ditunjukkan oleh sample tahu adalah menunjukkan adanya kandungan protein dalam tahu tersebut. Pada uji fehling pada senyawa protein menunjukkan warna merah muda dalam sample tahu. Sedangkan pada sample lain menunjukkan warna biru, ungu dan lainnya yang menunjukkan mengandung karbohidrat dan protein dalam sample tersebut.
Selanjutnya reaksi identifikasi formalin pada sample ini menggunakan reagen benedict. Dari reaksi dengan reagen ini akan menunjukkan uji positif dengan terbentuknya endapan merah muda atau kuning. Hasil percobaan menunjukkan bahwa untuk sample tempe bewarna biru, mie berwarna agak kuning, ikan teri berwarna biru tua, ikan asin berwarna biru dan siomay berwarna kuning kebiruan. Dari hasil percobaan ini yang jelas tidak mengandung formalin adalah tempe, ikan teri, ikan asin dan tahu.
Dari uji kedua ini dapat dianalisis bahwa pada mie menunjukkan warna agak kuning. Hal ini belum menunjukkan adanya formalin karena bisa jadi warna kuning berasal dari mie itu sediri karena mie itu berwarna kuning. Selain itu yang terbentuk bukan endapan warna kuning. Lalu pada siomay menunjukkan warna kuning kebiruan, kemungkinan ada formalin tetapi yang terbentuk bukan endapan hanya perubahan warna atau mungkin ini menunjukkan adanya formalin dengan kadar kecil. Hal ini kemungkinan juga terjadi pada sample mie.
Jika dibandingkan dengan uji menggunakan fehling A+B dan benedict hasil yang diperoleh berbeda. Seharusnya jika memang mengadung senyawa formalin hasil yang diperoleh sama. Jadi kemungkinan perubahan warna yang terbentuk bukan menunjukkan adanya formalin tetapi menunjukkan yang lain seperti kandungan protein, karbohidrat atau bahkan warna dari sample itu sendiri.
Jika disesuaikan dengan literature tentang mie yang mengandung formalin cirinya adalah:
1. tidak rusak sampai 2 hari pada suhu kamar (250C) dan bertahan sampai 15 hari pada suhu lemari es (100C)
2. bau agak menyengat, bau formalin
3. tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibanding mie normal
Dari ciri itu dapat diambil ciri ketiga dan tidak menunjukkan ciri itu.
2. Penentuan Kadar Protein Bahan
Penentuan kadar protein bahan dilakukan dengan metode semi-mikro-kjeldahl yang pada prinsipnya adalah penentuan jumlah Nitrogen (N) yang dikandung oleh suatu bahan dengan cara mendegradasi protein bahan organik dengan menggunakan asam sulfat pekat untuk menghasilkan nitrogen sebagai amonia, kemudian menghitung jumlah nitrogen yang terlepas sebagai amonia lalu mengkonversikan ke dalam kadar protein dengan mengalikannya dengan konstanta tertentu. Analisa protein dengan metode semi-mikro-kjeldahl pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu proses destruksi, proses destilasi, dan tahap titrasi.
Pada tahap destruksi, sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat sehingga terjadi penguraian sampel menjadi unsur-unsurnya yaitu unsur-unsur C, H, O, N, S, dan P. Unsur N dalam protein ini dipakai untuk menentukan kandungan protein dalam suatu bahan.
Mula-mula dimasukkan 10 gr bahan ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 5 gr serbuk asam asetat. Serbuk asam asetat digunakan sebagai katalisator. Lalu dimasukkan ke dalam labu kjeldahl, kemudian ditambahkan 20 ml H2SO4. Katalisator berfungsi untuk mempercepat proses destruksi dengan menaikkan titik didih asam sulfat saat dilakukan penambahan H2SO4 pekat serta mempercepat kenaikan suhu asam sulfat, sehingga destruksi berjalan lebih cepat. Karena titik didih tinggi maka asam sulfat akan membutuhkan waktu yang lama untuk menguap. Dengan demikian, kontak asam sulfat dengan sampel akan lebih lama sehingga proses destruksi akan berjalan lebih efektif.
Selain itu juga dibuat blanko dalam tabung reaksi besar yang berisi katalisator N dan 3 ml H2SO4 agar analisa lebih tepat. Blanko ini berfungsi sebagai faktor koreksi dari adanya senyawa N yang berasal dari reagensia yang digunakan. Tabung kjeldahl yang berisi sampel kemudian ditempatkan dalam alat destruksi (destruktor) dan ditutup. Setelah itu sampel didestruksi semalaman untuk memecah protein. dengan terjadinya penguraian sampel menjadi unsur-unsurnya yaitu unsur-unsur C, H, O, N, S, dan P.
Selama proses destruksi akan dihasilkan gas SO2 yang berbau menyengat dan dapat membahayakan jika dihirup dalam jumlah relatif banyak. Gas yang dihasilkan ini akan bergerak ke atas (tersedot penutup) dan akan disalurkan ke dalam tabung yang berisi larutan yang berwarna merah, dimana larutan ini terdiri dari larutan Na-Sulfat, pp dan katalis. Larutan inilah yang selanjutnya dapat menyerap gas yang keluar dari sampel. Selain dibebaskan gas SO2 juga dibebaskan gas CO2 dan H2O sesuai dengan reaksi sebagai berikut :
panas
Bahan organik + H2SO4 CO2 + SO2 + (NH4)2SO4 + H2O
Larutan sampel yang didapatkan berwarna kehitaman, lalu larutan ini didinginkan supaya suhu sampel sama dengan suhu luar sehingga penambahan perlakuan lain pada proses berikutnya dapat memperoleh hasil yang diinginkan. Selanjutnya larutan ini didestilasi.
Pada tahap destilasi, pada prinsipnyai adalah memisahkan cairan atau larutan berdasarkan perbedaan titik didih. Mula-mula larutan sampel hasil destruksi yang telah dingin ditambah dengan 140 ml aquadest. Tujuannya untuk melarutkan sampel hasil destruksi dan blankonya agar hasil destruksi dapat didestilasi dengan sempurna serta untuk lebih memudahkan proses analisa karena hasil destruksi melekat pada labu kjeldahl.
Kemudian ditambahkan 30 ml larutan NaOH-Na2S2O3. Tujuan dari penambahan larutan ini adalah untuk memecah amonium sulfat menjadi amonia (NH3) Fungsi penambahan NaOH adalah untuk memberikan suasana basa karena reaksi tidak dapat berlangsung dalam keadaan asam. Sedangkan fungsi penambahan Na2S2O3 adalah untuk mencegah terjadinya ion kompleks ammonium sulfat dengan katalisator. Kompleks yang terjadi ikatannya kuat dan sukar diuapkan. Na2S2O3 berfungsi untuk mengendapkan katalisator sehingga tidak mengganggu reaksi kimia selanjutnya.
Selanjutnya larutan ini didestilasi, dimana ammonium sulfat dipecah menjadi ammonia (NH3) . Ammonia yang dibebaskan selanjutnya akan ditangkap oleh larutan asam standar yaitu 25 ml asam borat yang dimasukkan kedalam Erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes indikator metil biru. Destilat yang keluar akan ditampung dalam larutan ini. Indikator metil biru bersifat amfoter, yaitu bisa bereaksi dengan asam maupun basa. Indikator ini digunakan untuk mengetahui asam dalam keadaan berlebih. Selain itu alasan pemilihan indikator ini adalah karena memiliki trayek pH 6-8 (melalui suasana asam dan basa / dapat bekerja pada suasana asam dan basa) yang berarti trayek kerjanya luas (meliputi asam-netral-basa). Pada suasana asam indikator akan berwarna biru, sedang pada suasana basa akan berwarna merah muda. Setelah ditambah metil biru, larutan akan berwarna biru karena berada dalam kondisi asam.
Asam borat (H3BO3) berfungsi sebagai penangkap NH3 sebagai destilat berupa gas yang bersifat basa. Supaya ammonia dapat ditangkap secara maksimal, maka sebaiknya ujung alat destilasi ini tercelup semua ke dalam larutan asam standar sehingga dapat ditentukan jumlah protein sesuai dengan kadar protein bahan. Selama proses destilasi lama-kelamaan larutan asam borat akan berubah merah muda karena larutan menangkap adanya ammonia dalam bahan yang bersifat basa sehingga mengubah warna biru menjadi merah muda. Tetapi menurut percobaan ini larutan destilat yang dihasilkan tidak mengubah asam borat menjadi merah muda. Hal ini disebabkan karena adanya kesalahan dalam melakukan percobaan.
Reaksi yang terjadi :
(NH4)SO4 + NaOH Na2SO4 + 2 NH4OH
2NH4OH 2NH3 + 2H2O
4NH3 + 2H3BO3 2(NH4)2BO3 +H2
Kemudian larutan hasil destilasi (destilat) didalam Erlenmeyer di ambil 10 ml untuk selanjutnya dilakukan titrasi dengan menggunakan NaOH. Titrasi merupakan tahap akhir dari seluruh metode Kjeldahl pada penentuan kadar protein dalam bahan pangan yang dianalisis. Dengan melakukan titrasi, dapat diketahui banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia. Selain destilat sampel, destilat blanko juga dititrasi karena selisih titrasi sampel dengan titrasi blanko merupakan ekuivalen jumlah nitrogen.
Titrasi dilakukan sampai titik ekuivalen yang ditandai dengan berubahnya warna larutan biru menjadi merah muda karena adanya NaOH berlebih yang menyebabkan suasana basa. Melalui titrasi ini, dapat diketahui kandungan N dalam bentuk NH4 sehingga kandungan N dalam protein pada sampel dapat diketahui.
Menurut percobaan ini volume NaOH yang digunakan adalah 3,3 ml dengan konsentrasi 0,1 N. Dengan demikian dapat dihitung kadar protein dengan menghitung total N. Menurut persamaan:
Jumlah total N = ml NaOH x N NaOH x 14,008 x f mg/ml
ml larutan contoh
Menurut perhitungan jumlah total N adalah 4,623.












KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Alat-alat yang digunakan untuk mengidentifikasi formalin adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet tetes, penangas air dan lampu sirtus.
2. Reagen-reagen yang digunakan untuk mengidentifikasi formalin adalah pereaksi fehling A+B dan pereaksi benedict.
3. Langkah-langkah kerja dalam menganalisa kadar protein suatu bahan adalah Dimasukkan 10 ml larutan bahan ke dalam labu takar 100 ml lalu diencerkan sampai tanda batas. Lalu dimasukkan ke dalam labu kjeldhal 500 ml dan ditambahkan H2SO4. Lalu ditambahkan asam asetat sebanyak 5 gram sebagai katalisator. Lalu larutan dididihkan dalam alat destruksi selama 30 menit. Setelah itu didinginkan dan dicuci dengan 140 ml aquades. Lalu larutan dimasukkan ke dalam labu destilasi dengan air cuciannya. Lalu ditambahkan 30 ml larutan NaOH-Na2S2O3 kemudian ditambahkan beberapa butiran Zink. Lalu dilakukan destilasi dan destilatnya ditampung pada Erlenmeyer berisi 25 ml asam borat dan 2 tetes indicator metil biru. Larutan dititrasi menggunakan 0,1 N NaOH lalu % protein dihitung dengan menghitung nilai total N.
ml NaOH x N NaOH
Jumlah total N = x 14,008 x f (mg/ml)
ml larutan contoh
5.2 Saran
Pada proses penentuan awal dan pemilihan bahan yang akan diujikan sebaiknya diberitakan informasinya secara jelas, sehingga asal bahan dan kemungkinan informasi yang berguna bagi pembaca, dan tidak menimbulkan salah persepsi mengenai jenis sampel yang diujikan, tidak semua sampel sejenis mengandung formalin. Selain itu perlu dilakukan juga pemberian formalin oleh praktikan sendiri, sebelum kita mengamati residu yang ditinggalkan sehingga kita dapat mengetahui bahan pangan mana yang banyak atau tidak menyerap formalin secara menyeluruh.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Ciri-Ciri Makanan yang Mengandung Formalin. http://pipit.wordpress.com/2005/12/30/ciri-ciri-makanan-yang-mengandung-formalin/
Anonim. Formalin dan Boraks. http://oliveoile.wordpress.com/2008/01/07/formalin-boraks/
Anonim. Formalin (HCHO dan CH3OH dalam Air). http://www.o-fish.com/HamaPenyakit/formalin.php
Sudarmadji, dkk. 1996. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta: Penerbit Liberty
Wahyu Ramadhan. Identifikasi Formalin Pada Produk Perikanan. http://wahyu-ramadhan.blogspot.com/2008/11/identifikasi-formalin-pada-produk_04.html

1 komentar:

  1. Info tambahan :
    - Formalin Pada Ikan (Ikan berformalin dan tidak berformalin)
    - Ciri – Ciri Ikan Berformalin

    http://pobersonaibaho.wordpress.com/2011/05/30/formalin-pada-ikan-ikan-berformalin-dan-tidak-berformalin-ciri-ciri-ikan-berformalin/

    BalasHapus