Senin, 24 Januari 2011

LAPORAN PENELITIAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN MAKANAN “Uji Boraks dalam Suatu Bahan” Oleh : Yoza Fitriadi A1F007010

LAPORAN PENELITIAN
PRAKTIKUM KIMIA BAHAN MAKANAN

“Uji Boraks dalam Suatu Bahan”



Oleh :

Yoza Fitriadi
A1F007010



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2009

1. Tujuan

1. Dapat menyebutkan alat-alat yang digunakan untuk mengidentifikasi boraks
2. Dapat menyebutkan reagen-reagen yang digunakan untuk mengidentifikasi boraks
3. Dapat menerangkan langkah-langkah kerja dalam menganalisa kadar boraks suatu bahan























11. Landasan Teori

Boraks merupakan senyawa kimia dengan rumus natrium tetraborat, berbentuk kristal lunak dengan pH = 9,5. Boraks merupakan senyawa kimia antara natrium hidroksida serta asam borat. Dalam industri, boraks menjadi bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu, antiseptic kayu dan pengontrol kecoa.
Secara bahasa jawa, boraks dikenal sebagai bleng. Bleng adalah campuran garam mineral konsentrasi tinggi yang dipakai dalam pembuatan makanan tradisional seperti karak dan gendar. Sinonimnya yaitu natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat.
Struktur molekul boraks adalah dari menyambungkan BO2(OH) BO3(OH) dan segi tiga bidang empat yang terikat ke rantai dari bidang delapan air dan sodium. Boraks memiliki beberapa karakteristik:
• Warna adalah putih jernih
• Kilau seperti kaca
• Kristal transparan (tembus cahaya)
• System hablur adalah monoklin
• Perpecahan sempurna di satu arah
• Warna lapisan putih
• Mineral yang sejenis adalah kalsit, halit, hanksite, colemanite, ulexite dan garam asam borat.
Manfaat boraks
Boraks biasanya digunakan oleh industri farmasi sebagai ramuan obat misalnya salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut dan obat pencuci mata. Boraks juga digunakan sebagai bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu dan antiseptic kayu.
Boraks ini banyak disalahgunakan oleh manusia sehingga menimbulkan bahaya. Boraks banyak disalahgunakan untuk pembuatan mie basah, lontong, bakso, kerupuk dan gendar. Boraks apabila terdapat pada makanan maka dalam jangka waktu lama akan terjadi penumpukan pada otak, hati, lemak dan ginjal. Pemakaian dalam jumlah banyak dapat menyebabkan demam, depresi, kerusakan ginjal, nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, kebodohan, kebingungan, radang kulit, anemia, kejang, pingsan, koma bahkan kematian.
Bahaya boraks dapat diserap melalui usus, kulit yang rusak dan selaput lender. Dapat memberikan efek toksik. Pengaruhnya terhadap kesehatan:
a. Tanda dan gejala akut
Munah, diare, merah di lender, konvulsi dan dispersi SSP (Susunan Syaraf Pusat)
b. Tanda dan gejala kronis
Nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, gangguan SSP, bingung dan bodoh, anemia, rambut rontok dan kanker.
Cirri-ciri makanan mengandung boraks:
Bakso :
• Lebih kenyal dibanding bakso tanpa boraks
• Bila digigit akan kembali ke bentuk semula
• Tahan lama dan awet beberapa hari.
• Warnanya tampak lebih putih. Bakso yang aman berwarna abu-abu segar merata di semua bagian baik di pinggir maupun di tengah.
• Bau terasa tidak alami ada bau lain yang muncul.
• Bila dilemparkan ke lantai akan memantul seperti bola bengkel.
Gula merah:
• Sangat keras dan susah dibelah
• Terlihat butiran mengkilap di bagian dalam

Lontong:
• Teksturnya sangat kenyal
• Dapat memberikan rasa getir
Kerupuk:
• Teksturnya sangat renyah
• Dapat memberikan rasa getir
Boraks maupun bleng tidak aman untuk dikonsumsi sebagai makanan, tetapi ironisnya penggunaan boraks sebagai komponen dalam makanan sudah meluas di Indonesia. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tidak serta berakibat buruk terhadap kesehatan tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Seringnya mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian. Bleng atau boraks biasanya dipakai dalam pembuatan makanan berikut ini: karak/lempeng (kerupuk beras), sebagai komponen pembantu pembuatan gendar (adonan calon kerupuk) mi, lontong, sebagai pengeras. ketupat, sebagai pengeras, bakso, sebagai pengawet dan pengeras serta kecap, sebagai pengawet.





111. Pelaksanaan Percobaan

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat Percobaan

• Klem dan statif
• Labu Erlenmeyer
• Labu destilasi
• Kaki tiga
• Kondensor
• Selang
• Penangas air

• Lampu spirtus
• Timbangan analitik
• Tabung reaksi
• Rak tabung reaksi
• Batang pengaduk
• Pipet tetes
• Spektronik


3.1.2 Bahan Percobaan



• Mie Basah
• Bakso
• HCl 4 N
• Aquades
• MeOH
• EtOH
• Larutan kurkumin




3.2 Langkah Kerja

Penentuan kadar boraks dalam suatu bahan
1. Dimasukkan 20 gram larutan bahan ke dalam labu erlenmeyer ditambahkan 60 ml aquades panas dan dihaluskan (diblender).
2. Dimasukkan dalam campuran 4 ml HCl 4 N dan dipanaskan di atas pengangas air selama 5 menit. Sambil diaduk kemudian disaring, sisa saringan dicuci dengan air panas dan digabungkan.
3. Filtrate dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan dencerkan dengan aquades sampai tanda batas.
4. Diambil 25 ml dan ditambahkan 37,5 ml meoh dan didestilasi pada suhu 850c selama 1,5 jam. Setelah itu didinginkan dan ditambahkan larutan kurkumin dan dipanaskan pada suhu 550c hingga kering. Kemudian ditambahkan etoh dalam labu ukur 25 ml. Larutan ini diukur serapannya menggunakan spektronik menggunakan panjang gelombang 532,4 nm.
5. Kadar boraks dalam sample dapat dihitung berdasarkan kurva kalibrasi yang dibuat dari larutan standar boraks. Bedasarkan regresi linier kurva kalibrasi dan factor pengenceran dapat dihitung kadar boraks:

K. Abs + B.FP x 1000
Kadar boraks (ppm) =
gram contoh
K = slope
Abs = absorbansi
B = intersep
FP = factor pengenceran




IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan
Penentuan kadar boraks dalam suatu bahan
Sample %T A
Bakso
Mie basah
99,2 %
94,4 % 0,004
0,025


4.2 Perhitungan Penentuan kadar boraks dalam suatu bahan

Nilai absorbansi
1. Bakso
A = 2 – log % T
A = 2 – log 99,2
A = 2- 1,996 = 0,004
2. Mie Basah
A = 2 – log % T
A = 2 – log 94,4
A = 2 – 1,975 = 0,025

4.2 Pembahasan

Pada percobaan ini diidentifikasi senyawa borak dalam suatu bahan. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan borak dalam sutu bahan. Dimana borak dalam makanan dapat diidentifikasi dengan mengamati sifat fisik dan kimianya. Pada percobaan ini sampelnya yang digunakan adalah mie basah dan bakso yang mana biasanya dalam sampel tersebut sering mangandung borak untuk mengenyalkan dan mempertahankan tekstur dari sampel tersebut. Bakso dan mie yang biasanya mengandung borak biasanya tidak tercium aroma yang khas dari kedua makanan tersebut. Bila ditekan terasa kenyal seperti karet , bewarna abu abu terang ( bakso ) dan dapat dipantulkan. Semakin banyak kandungan borak dalam suatu makanan semakin nampak fisik nya, secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan kertas tumerik ataupun pengukuran absorbannya.

Pada percobaan ini ditentukan kadar borak dalam suatu sampel dengan pengukuran absorbannya.Dari hasil percobaan tersebut diperoleh data absorbanya yaitu 0,025 ( untuk mie basah ) dan 0,004 ( untuk bakso ). Absorbsi menyatakan bahwa penyerapan oleh padatan atau cairan yang berlasung, atau penyerapan cahaya oleh bahan yang dilewati oleh benda itu. Artinya bahwa kandungan borak dalam suatu sampel tersebut sangat sedikit atau bahkan tidak ada ini terlihat dari nilai absorban yang sangat kecil. Namun untuk lebih pasti berapa jumlah borak dalam suatu sampel tersebutperlu dilakukan perhitungan kadar borak dalam suatu sampel dengan rumus sebagai berikit ;
K. Abs + B.FP x 1000
Kadar boraks (ppm) =
gram contoh
K = slope
Abs = absorbansi
B = intersep
FP = factor pengenceran

Tetapi dalam percobaan ini perhitungan untuk kadar borak tidak dilaksanakan karena penentuan untuk larutan standar tidak dilakukan sehingga slope dan interseptnya tidak ada.

Dari hasil percobaan dapat diketahui ciri-ciri makanan mengandung boraks:
Bakso :
• Lebih kenyal dibanding bakso tanpa boraks
• Bila digigit akan kembali ke bentuk semula
• Tahan lama dan awet beberapa hari.
• Warnanya tampak lebih putih. Bakso yang aman berwarna abu-abu segar merata di semua bagian baik di pinggir maupun di tengah.
• Bau terasa tidak alami ada bau lain yang muncul.
• Bila dilemparkan ke lantai akan memantul seperti bola bengkel.
Boraks maupun bleng tidak aman untuk dikonsumsi sebagai makanan, tetapi ironisnya penggunaan boraks sebagai komponen dalam makanan sudah meluas di Indonesia. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tidak serta berakibat buruk terhadap kesehatan tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Seringnya mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal.
Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian. Bleng atau boraks biasanya dipakai dalam pembuatan makanan berikut ini: karak/lempeng (kerupuk beras), sebagai komponen pembantu pembuatan gendar (adonan calon kerupuk) mi, lontong, sebagai pengeras. ketupat, sebagai pengeras, bakso, sebagai pengawet dan pengeras serta kecap, sebagai pengawet.



V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Boraks merupakan senyawa kimia dengan rumus natrium tetraborat, berbentuk kristal lunak dengan pH = 9,5. Boraks merupakan senyawa kimia antara natrium hidroksida serta asam borat

2. Alat-alat yang digunakan untuk mengidentifikasi boraks adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet tetes.

3. Reagen-reagen yang digunakan untuk mengidentifikasi boraks adalah larutan kurkumin.

4. Langkah-langkah kerja dalam menganalisa kadar boraks suatu bahan adalah Dimasukkan 20 gram larutan bahan ke dalam labu erlenmeyer ditambahkan 60 ml aquades panas dan dihaluskan (diblender). Dimasukkan dalam campuran 4 ml HCl 4 N dan dipanaskan di atas pengangas air selama 5 menit. Sambil diaduk kemudian disaring, sisa saringan dicuci dengan air panas dan digabungkan. Filtrate dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan dencerkan dengan aquades sampai tanda batas. Diambil 25 ml dan ditambahkan 37,5 ml MeOH dan didestilasi pada suhu 850c selama 1,5 jam. Setelah itu didinginkan dan ditambahkan larutan kurkumin dan dipanaskan pada suhu 550c hingga kering. Kemudian ditambahkan EtOH dalam labu ukur 25 ml. Larutan ini diukur serapannya menggunakan spektronik menggunakan panjang gelombang 532,4 nm. Kadar boraks dalam sample dapat dihitung berdasarkan kurva kalibrasi yang dibuat dari larutan standar boraks. Bedasarkan regresi linier kurva kalibrasi dan factor pengenceran dapat dihitung kadar boraks:

K. Abs + B.FP x 1000
Kadar boraks (ppm) =
gram contoh
K = slope
Abs = absorbansi
B = intersep
FP = factor pengenceran

5.2 Saran

Pada proses penentuan awal dan pemilihan bahan yang akan diujikan sebaiknya diberitakan informasinya secara jelas, sehingga asal bahan dan kemungkinan informasi yang berguna bagi pembaca, dan tidak menimbulkan salah persepsi mengenai jenis sampel yang diujikan, tidak semua sampel sejenis mengandung boraks. Selain itu perlu dilakukan juga pemberian boraks oleh praktikan sendiri, sebelum kita mengamati residu yang ditinggalkan sehingga kita dapat mengetahui bahan pangan mana yang banyak atau tidak menyerap boraks secara menyeluruh.



















VI. Jawaban Pertanyaan

1. Jelaskan bagaimana cara mengidentifikasi adanya borak dalam suatu sampel.

Jawaban

Identifikasi borak dalam suatu sampel dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1. Reaksi identifikasi borak
a. Dimasukan larutan bahan kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 3 tetes larutan kurkumin
b. Diamati perubahan warna yang terjadi untukmengetahui adanya borak dalam sampel.

2. Penentuan kadar borak dalam suatu sampel

1. Dimasukkan 20 gram larutan bahan ke dalam labu erlenmeyer ditambahkan 60 ml aquades panas dan dihaluskan (diblender).
2. Dimasukkan dalam campuran 4 ml HCl 4 N dan dipanaskan di atas pengangas air selama 5 menit. Sambil diaduk kemudian disaring, sisa saringan dicuci dengan air panas dan digabungkan.

3. Filtrate dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan dencerkan dengan aquades sampai tanda batas.
4. Diambil 25 ml dan ditambahkan 37,5 ml meoh dan didestilasi pada suhu 850c selama 1,5 jam. Setelah itu didinginkan dan ditambahkan larutan kurkumin dan dipanaskan pada suhu 550c hingga kering. Kemudian ditambahkan etoh dalam labu ukur 25 ml. Larutan ini diukur serapannya menggunakan spektronik menggunakan panjang gelombang 532,4 nm.
5. Kadar boraks dalam sample dapat dihitung berdasarkan kurva kalibrasi yang dibuat dari larutan standar boraks. Bedasarkan regresi linier kurva kalibrasi dan factor pengenceran dapat dihitung kadar boraks:
K. Abs + B.FP x 1000
Kadar boraks (ppm) =
gram contoh
Tetapi dalam percobaan ini perhitungan untuk kadar borak tidak dilaksanakan karena penentuan untuk larutan standar tidak dilakukan sehingga slope dan interseptnya tidak ada.

Dari hasil percobaan dapat diketahui ciri-ciri makanan yang mengandung boraks:
Bakso :
• Lebih kenyal dibanding bakso tanpa boraks
• Bila digigit akan kembali ke bentuk semula
• Tahan lama dan awet beberapa hari.
• Warnanya tampak lebih putih. Bakso yang aman berwarna abu-abu segar merata di semua bagian baik di pinggir maupun di tengah.
• Bau terasa tidak alami ada bau lain yang muncul.
• Bila dilemparkan ke lantai akan memantul seperti bola bengkel.
Boraks maupun bleng tidak aman untuk dikonsumsi sebagai makanan, tetapi ironisnya penggunaan boraks sebagai komponen dalam makanan sudah meluas di Indonesia. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tidak serta berakibat buruk terhadap kesehatan tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Seringnya mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal.










VII. DAFTAR PUSTAKA


Akmal, Zurhamita. 1995. Kandungan Boraks pada Makanan Jenis Mie yang Beredar di Kotamadya Padang. http://batamdigitalisland.com/
Annonim. 2006. Bahaya Formalin dan Boraks. Jakarta : http://www.blogger.com/
Annonim. 2008. Bahaya Bleng dan Boraks. Jakarta: http://wapedia.mobi/id/Bleng
Annonim.2008. Mineral Boraks.http://lasonearth.wordpress.com
Annonim. 2008. Struktur Boraks. http://commons.wikimedia.org.
Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat.2008. Boraks. http://www.diskes.jabarprov.go.id
Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. 2008. Bahaya Penggunaan Formalin dan Boraks. Jombang : http://www.rsd-jombang.com/
Dinas Kesehatan Kota Denpasar. 2008. Bahan Tambahan Terlarang dan Berbahaya. Denpasar : http://dinkes.denpasarkota.go.id
Kompas Cyber Media. 2008. Mi, Lezat Bergizi tetapi Rawan Formalin !. http://www.depkes.go.id/index.php.
Mujamil S, Jejem. 1997. Deteksi dan Evaluasi Keberadaan Boraks pada Beberapa Jenis Makanan di Kotamadya Palembang. http://www.kalbe.co.id/files.html
Olive oil. 2008. Formalin dan Boraks. Jakarta : http://oliveoile.wordpress.com/author/oliveoile/
Pharmacist. 2007. Bahaya Formalin Dan Boraks. http://apotekeronline.blogspot.com/2007
Syukur, Dadam Abdul. 2006. Bahaya Formalin Dan Boraks. http://www.disnakkeswan-lampung.go.id/index.php
Yella. 2008. Uji Nyala Sampel Boraks. http://batamdigitalisland.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar